Sunday, January 27, 2019

Inspirasi Secangkir Kopi


Inspirasi Secangkir Kopi - Secangkir kopi hitam yang masih tetap setia menemaniku melalui malam-malam panjang. Malam ini kubuat artikel sambil di temani kopi dan seorang istri di samping yang ia fokus nontonin hp nya hehe. Waktu ini pass musim hujan jadi pass pasti nya merasakan dingin dan pass banget lah untuk menyeruput secangkir kopi hitam ini apalagi pass ada minduanya / gorengan apa aja lah malah lebih nikmat untuk di nikmatin sambil membuat artikel ini.

Aku menatap kopi yang masih tergenang di dalam cangkir bening porselin. Kopinya yang dibuatkan istriku hitam pekat dan sa'at di sruput uih rasanya pecah di lidah dan cespleng untuk nikmat dan menjadikan sebuah artikel yang berinpirasi tentang minum kopi ini. Aku perhatikan dan melihat lebih dalam, kopi memang hitam, meski hitam jadi simbol kejahatan, namun kenapa hitam kopi ini justru bisa bangkitkan orang untuk berbuat kebajikan. Ia memang hitam, tapi di hitamnya aku melihat segurat harapan, secerah cahaya untuk lusa yang belum tercipta, ada emosi yang menggelora, dan sejumput keinginan dalam binar hitamnya.

Sungguh kopi ini hitam dan sangat pekat, tapi hitamnya adalah jiwa, adalah inspirasi penggerak hati. Terkadang juga pahit, dan sungguh pahit dirasa, namun hidup telah mentasbihnya untuk manis, maka tersenyumlah ia dengan manisnya segera. Aku penyendiri, pecumbu sepi, menyetubuhi sunyi, bersenggama dengan gulita, menghujam diri dalam bait puisi, mendera raga dengan cerita lewat kata. Saat kalut menerjang, tersentak, mengguncang cita yang direka, maka kopi segera ada, menamparku dengan manisnya untuk kembali berdiri.

Aku temukan arti di adanya, aku rasakan makna di hadirnya, jiwaku telah menyatu dalam hitam yang tampak dan manis yang tercipta. Sungguh, aku telah memujanya, tapi kopi bukan dewa, karena aku punya Dia, aku hanya suka manisnya dan jatuh cinta pada hitamnya. Aku tak bisa menulis cerita tanpa kopi, aku tak sanggup sambut pagi tanpa secangkir kopi, aku tak mampu nikmati senja tanpa ditemani segelas kopi.

Cerita " Inpirasi Secangkir Kopi "

Aku tak berdaya lalui malam-malam panjang tanpa kehadirannya. Rupanya aku telah jatuh cinta padanya, entah kapan aku akan melamarnya, lantas menikahinya, dan punya beberapa anak darinya. Aku tidak memandang dimana harus minum kopi, di kios rokok, warung angkringan, di cafe, di resto, atau dipinggiran jalan di atas trotoar.
Aku pun tidak harus selalu menakar estimasi antara kopi dengan gula, apalagi berkelakukan perfectionist seperti si- Bethoven yang harus ada 60 biji kopi untuk setiap cangkir kopi yang mau dinikmatinya. Asalkan cukup terasa pahit di lidah, maka kopi kembali menjadi teman setia melewati malam-malam panjang.
 Kehadirannya selalu mendatangkan kata-kata bijak dan rencana-rencana fundamental, bahkan setelah menyeruput sekali saja aku langsung mampu menulis berlembar-lembar surat cinta, meskipun surat-surat itu tak pernah aku kirimkan pada seseorang. Terkadang aku selalu bertanya apa jadinya dunia tanpa kopi.

Sepertinya aku ingin menjadi petani kopi saja, atau pemilik kedai kopi, tapi setelah dipikir-pikir lagi lebih baik menjadi penikmat saja. Mungkin sudah sepatutnya aku dan para penikmat kopi di seantero jagat ini berterima kepada seorang penggembala kambing asal Abessynia yang untuk kali pertama menemukan tumbuhan kopi sewaktu ia menggembalakan ternaknya. Atas jasanyalah minuman satu ini menjadi minuman bergengsi para aristokrat di Eropa. Arabika, aku jatuh cinta padanya, warnanya yang hitam pekat namun menimbulkan aroma yang sentimentil, harum dan menyejukkan hati.

Robusta, kendati memiliki kafein yang tinggi, namun terkadang aku suka merindukan pahitnya. Sebagai penikmat kopi aku sangat bersyukur karena dilahirkan dan hidup di abad ini. Bayangkan saja kalau dilahirkan sebelum jaman Renaissance, mungkin aku tidak akan pernah mencicipi eksotisme kepekatannya. Kecuali kalau aku dilahirkan dari keluarga Aristokrat dan berkarib kerabat dengan Raja Frederick Agung dari Rusia. Bayangkan pula, kalau aku hidup di tahun 1656, dimana Wazir dan Kofri, Kerajaan Usmaniyah mengeluarkan larangan untuk membuka kedai-kedai kopi. Bukan hanya melarang kopi, tetapi menghukum orang-orang yang minum kopi dengan hukuman cambuk pada pelanggaran pertama. Aku pun bersyukur tidak menjadi warga negara Swedia saat Raja Gustaff ke-II masih berkuasa. Ia pernah menjatuhkan hukuman terhadap seorang peminum kopi. Kopi, ah aku jatuh cinta padanya …

Sekian dulu yak guys inpirasi ku di setiap secangkir kopi di malam ini semoga menghibur hehe...

Mhonon ma'af bila ada kesalahan tulisan pada artikel ini / gak nyambung, cerita ini hanya karangan / berimajinasi saja bukan sungguhan.

Bagikan